Macam Modus yang Masih Dilakukan Maling Online Kelas Cere


Kejahatan zaman sekarang bukan hanya terjadi di kehidupan nyata. Dengan adanya technologi digital sekarang ini, rupanya para maling ikut memanfaatkan kemudahan sarana digital seperti transaksi jual-beli secara online yang mana pelakunya saya sebut dengan "maling online" kelas cere.

Saya (penulis) menggunakan kata "cere" yang mana artinya adalah ikan kecil yang mirip ikan teri. Jadi pengertian "maling kelas cere" adalah maling kelas kecil dengan target para newbie di sosial media. Oleh karena itu, kita jangan sampai kalah pintar dengan para maling. Jika tidak, maka siap-siap cepat atau lambat kitalah yang akan menjadi korbannya.

Nach, para maling-maling online ini dalam melancarkan aksi demi mendapatkan korban yang akan ditipunya menggunakan berbagai macam cara dan memanfaatkan berbagai media. Untuk maling online kelas cere, mereka masih menggunakan modus "jadul" bin murahan alias cara lama yang sudah usang, di antaranya:

1. Melalui SMS dan telepon

Mendapat pesan SMS seperti pada gambar di atas saya sempat geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum. Secara, mana ada sebuah marketplace besar untuk mengumumkan hadiah hanya berupa SMS dengan nomor tanpa dicostum dan link-nya pun terlihat aneh begitu. Saran saya, jika anda mendapatkan pesan ngga jelas berupa link baik SMS maupun pesan Email jangan di klik, konon kabarnya berita tempo hari mengenai penjahat hacker berhasil membobol perusahaan di America karena si admin meng-klik link pesan email ngga jelas.

Kalau dapat SMS model begini jadi ingat dahulu modus SMS "mama minta pulsa". Dahulu sempat menjadi trend dengan pesan penipuan "Mama minta pulsa". Mungkin anda pun pernah mendapat pesan SMS demikian. Saya masih teringat isi pesannya:

Tolong kirimin mama pulsa! Sekarang mama di rumah sakit. Ini darurat, cepetan ya! Oiya.. jangan dikirim ke nomor ini, kirimin ke nomor 081xxxxxxx78 aja sebesar 50K. Nanti mama jelasin, cepetan ya!

Bukan hanya berupa pesan SMS, bahkan maling kelas cere pun melancarkan kejahatannya melalui telepon. Biasanya si maling menelpon minta transfer uang dengan alasan masih di seputaran "darurat". Hal itu dilakukan agar si korban 'hilang akal' dengan shock terapinya tersebut yang pada akhirnya dapat diperdaya dengan mudah.

Seiring berjalannya waktu, penipuan maling kelas cere modus seperti itu sudah tak ada lagi. Disamping banyak maling cere yang tertangkap polisi, juga masyarakat luas sudah banyak yang mengetahuinya modus dari si maling kelas cere. Pun jika masih ada maling kelas cere menggunakan modus seperti itu di zaman sekarang, maka dapat dipastikan bilamana si korban melapor dengan disertai alat bukti atas kejahatan si maling maka 1x24jam dapat diringkus dengan mudah.

2. Berkedok menjadi seller di Sosial Media

Para maling kelas cere memanfaatkan media sosial seperti facebook, instagram, dan lain-lain menjual produk 'fiktif-nya' dengan bermodalkan akun palsu. Bilamana kita sebagai buyer bertransaksi dengannya, maka ketika kita transfer sejumlah uang blassss... si maling langsung blokir akun kita. Tak ayal, duit kita melayang, produk barang jangan harap akan datang.

Untunglah sekarang ini dengan adanya Marketplace (bukalapak, tokopedia, dll) dapat membantu para buyer (pembeli) terhindar dari kerugian materil yang menimpanya. Secara, marketplace tersebut memberi garansi 100% uang kembali tatkala produk yang di belinya tak dikirim dalam waktu tertentu, yup.. itulah yang disebut dengan sistem rekening bersama (rekber).

Namun, sampai saat ini masih banyak para buyer yang enggan membeli produk barang di marketplace dengan alasan bermacam-macam. Ada yang beralasan ngga ngerti cara proses belanjanya, ada yang males harus bikin akun, instal aplikasinya, kesel dengan banyaknya kiriman notifikasi email sebagai informasi penawaran produk, dan masih banyak alasan lainnya untuk tidak belanja di marketplace.

Okelah.., hidup adalah pilihan. Jika anda lebih memilih membeli produk di sosial media yang mana proses transaksinya lebih simple ketimbang marketplace ya itu tidak menjadi masalah, dengan "catatan" kepada siapa anda bertransaksi? Tentunya bukan kepada maling cere kan?!

Lagi pula ngga semua kok yang jualan di sosial media itu maling cere. Banyak di antara penjual di sosial media bisa lebih jujur ketimbang penjual di marketplace. Kenapa saya menilai demikian? Tak lain dan tak bukan, banyak juga kok buyer yang tertipu oleh seler di marketplace, kita order hitam yang dikirim putih dan itu saya alami sendiri. Hal itu membuktikan bahwa kejujuran tak bisa di ukur dengan "tempat" melainkan berada pada "sifat" individu sesorang.

Setidaknya agar terhindar dari penipuan si maling kelas cere berkedok seller di sosial media ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Akun: jangan lihat foto profil dan nama, lihatlah lama/usia akunnya, semakin tua usia akun tersebut maka semakin bisa dipercaya keasliannya.
  • Toko online: si maling cere tak akan punya "toko online" apalagi yang berdomain CO.ID dan WEB.ID, secara bikin toko online itu mahal dan khusus domain tersebut dibutuhkan keterangan KTP dan NPWP.
  • Testimoni: seberapa banyak testimoni/pengakuan yang ia dapatkan dari para buyer mengenai kwalitas produk dan pelayanan. Biasanya berupa screenshot chat WhapsApp.
  • Input informasi: biasanya ada saja dari anggota group yang men-share pelaku penipu pastinya dengan di sertai bukti kuat. Nach, dari situ kenali akunnya dan ikut viralkan agar si pelaku/maling cere dapat diproses hukum. Yang sudah-sudah penjahat yang diviralkan akan cepat ditangkap.
Hal di atas tidak berlaku untuk produk barang jualan dengan harga setara harga hape, apalagi transaksi dengan nominal jutaan. Saran saya, jika ingin membeli hape maka belilah di marketplace atau lebih baik datang langsung ke toko resminya. Jika ingin membeli hape seken, usahakanlah dengan cara 'tatap-muka' atau bertemu langsung di tempat yang sekiranya aman.

3. Berkedok menjadi buyer

Ada sebagian dari maling kelas cere menggunakan modus sebagai buyer (pembeli). Nach, bagi para pedagang online kemungkinan pernah menemui modus si maling kelas cere tersebut. Pada bulan-bulan kemarin, saya sering kali menemukan modus si maling kelas cere tersebut (selain penulis, saya pun merangkap sebagai pedagang online). Tetapi akhir-akhir ini sudah tak ada lagi modus kejahatan si maling kelas cere. Entahlah, mungkin banyak di antara si maling yang tertangkap polisi atas laporan pembobolan akun Bank si korban yang mana sempat mengisi ruang berita acara televisi.

Modusnya adalah dalam bertransaksi pembayaran, mereka mengirim gambar screenshot halaman pembayaran dari salah satu e-money dan meminta Nomor kartu ATM anda sebagai seller, kode OTP, kode PIN untuk di input ke dalam e-money tersebut. Jika seller tak memberikan maka pembayaran gagal alias tak jadi membeli produk yang anda jual.

Menurut saya, cara tersebut terbilang aneh dan tak masuk di akal. Yach.., namanya juga maling kelas cere yang mana usaha dalam modus kejahatannya itu sering kali menjadi bahan 'tertawaan'. Namun beda bagi orang awam dengan modus konyolnya tersebut, hal itu bilamana dituruti maka otomatis uang anda di Bank akan dikuras habis tak tersisa.

Saran saya, bagi anda yang kebetulan seller jangan sekali-kali memberikan nomor kartu ATM, kode OTP, nomor PIN, atau apapun itu dan dengan alasan apapun. Selama ini yang saya pelajari dari cara transfer Bank, e-wallet, atau e-money, tak ada cara yang dilakukan dengan cara aneh seperti itu. Katakan dengan tegas, silakan transfer dengan cara wajar atau tidak sama sekali. Jika masih tetap ngotot, baiknya segera anda laporkan kepada pihak berwajib (polisi) untuk ditindak lanjuti.

Penutup

Pepatah mengatakan "curiga boleh, menuduh jangan!". Maka itu, pada tulisan saya di atas bukan untuk membangun rasa saling curiga-mencurigai, tak lain dan tak bukan agar kita selalu waspada dari kemungkinan menjadi korban modus kejahatan si maling online kelas cere.

Secara, di dunia nyata saja banyak terjadi modus kejahatan, apalagi di dunia maya yang mana si maling online kelas cere walau pun masih menggunakan modus murahan seperti yang telah saya paparkan di atas toch masih saja banyak yang menjadi korbannya.

Bagi anda yang kebetulan menjadi korban dari kejahatan si maling online kelas cere, maka jangan sungkan bersegeralah melapor kepada pihak berwajib (polisi) untuk di proses sesuai hukum pastinya dengan alat bukti yang cukup untuk menjeratnya seperti gambar screenshot transaksi, struk bukti transfer, nomor hape/WhatsApp, nomor rekening si maling online, dan lain-lain. Dengan begitu, kurang dari 1x24jam si maling online kelas cere dapat dipastikan ngeringkuk dalam penjara.
Ferry Alamsyah Setelah selesai membaca, maka menulislah! Karena aku membutuhkan teman untuk merubah dunia melalui tulisan.

Belum ada Komentar untuk "Macam Modus yang Masih Dilakukan Maling Online Kelas Cere"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel